Tampilkan postingan dengan label The Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Story. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juni 2017

Sukses Usia Muda

Andi Nata si Raja Aqiqah



Well, kali ini ada sebuah kisah nyata yang menarik untuk diperhatikan, khususnya bagi anak-anak muda dibawah umur 25 tahunan. Kisah ini adalah kisah yang sangat memotivasi dari seorang anak bangsa yang dengan umur tergolong masih sangat muda telah mencapai kesuksesan layaknya banyak diimpikan orang-orang.

Nah, dengan umur yang tergolong masih sangat muda, sukses bukan lah tidak mungkin untuk di raih. Hal ini telah dibuktikan oleh Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia, Andi Nata. Siapa sangka pria kelahiran Cirebon ini telah meraih omset 300 juta perbulannya. Dia terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya, Sumari, adalah seorang karyawan bengkel furnitur. Adapun sang ibu, Roaenah, adalah ibu rumahtangga. “Mayoritas keluarga saya bertani di Plered”, kata pria berusia 25 tahun tersebut.
 
Berkah otak encer yang ia terima membawa dia menerima banyak beasiswa bahkan terus berlanjut hingga kuliah di Universitas Indonesia. Hingga suatu ketika, kabar buruk ia terima pada medio 2007. Sang ayah tertimpa kecelakaan kerja dan harus dioperasi dengan biaya Rp 35 juta. Andi pun terketuk hatinya melihat adik-adiknya yang masih kecil dan butuh biaya.

Dengan penghasilan yang ia dapat dari hasil les, sekuat tenaga Andi mengumpulkan dana untuk keperluan operasi mulai dari meminjam ke orang tua murid dan teman-temanyâ. Bahkan, untuk membayar pinjaman itu, dia rela tak digaji sebagai guru les privat selama beberapa tahun. Andi juga rajin mengikuti ajang karya ilmiah di kampus. Pokoknya, semua yang menghasilkan uang, diikutinya. Akhirnya, dia berhasil membiayai operasi ayahnya.

Setelah ayahnya benar-benar sembuh, Andi mulai berpikir untuk memberi kesibukan dan penghasilan bagi orang tuanya. Dari situ, kemudian, terlintas ide di benak Andi untuk beternak kambing. Mulailah dia berburu pengetahuan tentang beternak kambing dan Langkah Awalnya pun di mulai.
Dengan modal Rp 8 juta yang merupakan hasil tabungannya, Andi mulai merintis peternakan kambing di Plered. Dia membeli empat kambing betina dan satu kambing jantan. Perawatan kambing-kambing ini ia serahkan ke orangtua dan sejumlah saudaranya di kampung. Kemudian, dari seorang teman, dia mendapat info adanya peternak besar di Jakarta Utara. Andi pun segera mendatanginya dan mengungkapkan niatnya untuk mempelajari seluk-beluk soal beternak kambing dan berbulan-bulan, Andi tinggal di sana. 

Andi juga selalu bercerita tentang peternakan kambing itu kepada teman-teman yang ditemuinya dalam berbagai komunitas. Lantaran benar-benar ingin terjun ke dunia bisnis, dia lantas bergabung dalam berbagai komunitas. Melihat hasil peternakannya, sejumlah teman pun tertarik bergabung. Hingga pada akhir 2009, peternakan Andi telah memiliki 258 ekor kambing, dengan suntikan modal 20 investor.

Sayang, penjualan kambing terbesar hanya bisa dilakukan saat Idul Adha. Andi pun kembali harus memutar otak. Ketika berkunjung ke peternakan tempatnya berguru, Andi mendapat masukan untuk berbisnis katering. Mulailah Andi dengan usaha katering akikah dengan nama Raja Aqiqah. Tapi karena tak bisa memasak sendiri, masakan dikirim oleh Pak Haji, pemilik peternakan itu. 

“Jujur, saya tidak bisa masak, apalagi mengolah masakan sate atau gulai kambing. Tapi hasil masakan saya sudah masuk ke Hotel Four Seasons dan tiga hotel bintang empat lainnya di Jakarta,” ujar Andi

“Saya punya niat besar untuk buka bisnis aqiqah, namun tidak bisa masak, untuk mewujudkan keinginan saya, maka ide saya tidak lain mencari juru masak andal. Namun pencarian tersebut tidaklah mudah, cukup banyak juru masak yang menolak khususnya dalam memberikan resep rahasianya,” ungkap Andi lagi.

Bisnis katering ini cepat dikenal. Maklum, Andi rajin keluar masuk gang di Depok untuk menempel brosur setiap malam. Ia juga masuk ke komunitas yang tepat. Biar enggak malu, Andi juga sering kali kalau memasang brosur pakai helm.

Bisnis ini lebih menggiurkan daripada peternakan kambing. Untungnya lebih besar, bisa sampai Rp 250.000 per ekor kambing, ujar pria kelahiran 7 Januari 1989.
Kebetulan, di saat yang sama, tepatnya 2010 akhir, ada investor yang tertarik membeli kambing di peternakan Andi. Investor itu ingin memulai usaha penggemukan kambing. Tak berpikir lama, Andi menerima tawaran itu karena ingin fokus membesarkan bisnis katering dan mengubah peternakannya menjadi pembiakan kambing.
 
Pada 2011, Andi mulai membesarkan usaha katering dengan membenamkan investasi hingga Rp 150 juta. Dia pun mencari jurumasak sendiri untuk kateringnya. Kebetulan, ada orang yang pintar masak, tapi lagi nganggur, jelasnya.

Didukung oleh masakan yang lezat, bisnis kateringnya pun melesat. Pesanan selalu datang setiap hari, bahkan jangkauannya juga lebih luas, bukan cuma di Depok.

Tak berhenti di bisnis katering akikah, Andi pun menjajal denganmembuat usaha aqiqah yang diberi nama Raja Aqiqah. Klaim Andi tidak lain karena kualitas bahan utama dan cita rasa masakannya yang jauh dibandingkan yang lain.

“Bahan bakunya bukan kambing seperti pada umumnya, tapi daging domba yang merupakan perkawinan domba Afrikan F1 dengan domba Jawa Barat. Hasilnya dagingnya empuk dan tidak amis, apalagi yang paling utama tidak mengandung kolestrol,” ungkap

Keunggulan tersebut membuat pelanggannya senang, dan menjadikan rekomendasi para calon pelanggannya yang lain. “Tidak kurang dalam sehari 2-5 domba yang disembelih atau rata-rata 100 domba tiap bulan,” ungkapnya lagi.

Perhitungan bisnis Andi sederhana, dalam sebulan tidak kurang ada 1.000 acara aqiqah hanya di Jakarta saja.”Kalau saya ambil pasar 2% saja, sudah besar sekali,” ucap pria kelahiran 5 Januari 1989 ini.

“Bahkan saat ini, peternakannya tidak mampu memenuhi permintaan pesanan. Untuk memenuhi permintaan, saya membina sekitar 10 kelompok peternak domba yang tersebar di Cirebon, Depok, dan di daerah Jawa barat lainnya,” kata Andi.

Andi pun tidak menutup peluang pihak lain untuk menjalin kerjasama. Ia mengaku kini omzet bisnisnya bisa mencapai Rp 400 juta per bulan “Simpel saja kerjasamanya, kita bagi hasil 50:50 dari keuntungan bersih,” pungkasnya.

Andi juga menekuni bisnis properti sejak 2012. Dia membeli rumah-rumah yang sudah terpakai, dan merenovasinya untuk dijual kembali. Tidak hanya sampai disitu, dia melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka usaha traveling. Bahkan, melalui bendera PT Andinata Sumari, Andi juga menawarkan perjalanan umrah dan haji plus. Sungguh jiwa muda yang luar biasa

Rabu, 24 Februari 2016

Job Hunter


23 Februari 2016

            Surat Lamaran oke, Curiculum Vitae oke, Foto kopi KTP sama Pas Foto juga udah aman, SKHU juga oke. Sip, it’s time to do. Sesuai harapan, hari ini pulang cepat kuliah cuma setengah hari jadi langsung tancap jalan (bukan tancap gas) ke Carefour bawa surat lamaran. Well, ini adalah yang kedua kalinya aku antar Surat Lamaran ke Carefour di kantor kepegawaian TRANSMART Departement Store, setelah sebulan yang lalu aku datang kesana bawa lamaran dan sampai sekarang belum di panggil -_-.
            “Permisi mba, resepsonis nya ada” gak pake istrahat aku langsung aja nanya ke mba2 yang ada di situ. Ternyata resepsionis lagi entah kemana, 5 menit kemudian dia datang. Langsung aja aku temui dan bilang maksud kedatangan aku kesitu. “Jadi gini bu, sekitar sebulan yang lalu saya udah ngantar surat lamaran kesini terus sampai sekarang belum di panggil, jadi kebetulan juga nomor yang ada di surat lamaran itu mau saya ganti, apa bisa ?” Kata ku dengan nada pelan biar kelihatan sopan -_-. “Sebulan? Lama juga ya. Ya udah, antar lamaran baru aja. Hanya itu solusinya” Kata si resepsionis itu. Untung aja lamaran nya udah aku siapin jaga2 dia bakal ngomong gitu. Heheh, alhasil pengantaran lamaran selesai.
            But, this’s not the end. Habis dari Kantor Kepegawaian TRANSMART yang ada di lantai dasar, I go to the 4th floor menuju Kantor Kepegawaian MATAHARI. Sampai disana, kagetnya aku nengok kok banyak orang ada di depan pintu ada yg duduk di lantai ada juga yang berdiri. Buset, nanya deh aku “kak, ini pada ngapain kesini? Ngantar lamaran ya ?”Kebetulan banget kakak2 yang ada di depan aku, heheh. “Ia, bang” Katanya sambil manggil aku abang, padahal tadi aku manggil dia kakak, mana yang tua mana yang muda jadinya ini ? heheh. Setelah ngobrol2, ternyata si kakak itu ngantar adeknya untuk ngelamar kerja di situ dan mereka di situ udah dari jam 10, aku nengok jam udah setengah 12, lama ya mereka nunggu. Jam 12 lewat kami di panggil satu2. Udah deh, masuk kedalam kirain mau ngapain ternyata ngukur tinggi badan. Aduh, udah gelisah ini. Terus, orang di sebelah aku nanya “Pake ijazah apa dek?” sambil nengok ke arah berkas yang aku bawa “Masih baru tamat pak, jadi masih pake ijazah SMA” kata ku walaupun sebenarnya yang aku bawa SKHU bukan Ijazah. Setelah ngobrol2 lagi ternyata dia udah S1 Hukum dan udah melamar di berbagai tempat seperti Bank dan instansi lain tapi gak keterima karna katanya Instansi tersebut minta yang pintar2 dan punya pengalaman, aduh kasihan.
            Gak lama kemudian, aku masuk dan nyerahin lamaran terus di suruh rapet dinding untuk di ukur dan tiba2 “Gak bisa dek, tingginya enggak cukup’ sambil ngembaliin berkas lamaran tadi ke aku. Syok lah aku kan terus aku nanya “Emang berapa minimalnya?” terus dia jawab “165 dek, kamu Cuma 161”. Buset, aku yang tambah pendek atau gimana ya ? berkali-kali aku ngukur tinggi badan selalu pasti hasilnya 164-165, lah ini 161…,, alama.. y udah lah, berkas tadi pun aku ambil balik dan gak lama setelah aku keluar bapak yang tadi keluar juga terus aku nengok kayaknya lamarannya di balikin juga, “Gimana pak?” kata ku yang sama2 gak lewat -_- “Gak bisa dek, kurang umur. Y udah lah, mau gimana lagi” Katanya dengan nada yang… kasihan lah pokoknya. Alhasil, aku pun permisi duluan sama itu bapak dan langsung jalankan rencana B. Apa rencana B nya ? itu adalah untuk melamar jadi CS alias Cleaning Service.
            Enggak lama aku mulai nyari salah satu CS akhirnya aku nemuin juga dan langsung aku tanyain dimana ngantar lamaran dan sip berjalan sesuai rencana, tapi tiba2 “Tinggi minimal berapa, pak ?” kata ku “165, dek” katanya dan itu bikin aku say “aduh” dalam hati. Akhirnya, aku pulang dan sambil mikir2 akhirnya aku putuskan untuk tetap ngantar itu lamaran, siapa tahu aja nanti pas ngukur tinggi badan ada keajaiban. hehehehe   

Dasar Melakukan Suatu Percakapan Yang Berhasil

Beberapa orang berpendapat bahwa bicara adalah sebuah bakat karena tidak semua orang dapat dengan mudah melakukan suatu pembicaraan atau...