Andi Nata si Raja Aqiqah
Well, kali ini ada sebuah kisah nyata yang menarik untuk diperhatikan, khususnya bagi anak-anak muda dibawah umur 25 tahunan. Kisah ini adalah kisah yang sangat memotivasi dari seorang anak bangsa yang dengan umur tergolong masih sangat muda telah mencapai kesuksesan layaknya banyak diimpikan orang-orang.
Nah, dengan
umur yang tergolong masih sangat muda, sukses bukan lah tidak mungkin untuk di
raih. Hal ini telah dibuktikan oleh Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas
Indonesia, Andi Nata. Siapa sangka pria kelahiran Cirebon ini telah meraih
omset 300 juta perbulannya. Dia terlahir dari keluarga yang sangat
sederhana. Ayahnya, Sumari, adalah seorang karyawan bengkel furnitur. Adapun
sang ibu, Roaenah, adalah ibu rumahtangga. “Mayoritas keluarga saya bertani di
Plered”, kata pria berusia 25 tahun tersebut.
Berkah otak encer yang ia terima
membawa dia menerima banyak beasiswa bahkan terus berlanjut hingga kuliah di
Universitas Indonesia. Hingga suatu ketika, kabar buruk ia terima pada medio
2007. Sang ayah tertimpa kecelakaan kerja dan harus dioperasi dengan biaya Rp
35 juta. Andi pun terketuk hatinya melihat adik-adiknya yang masih kecil dan
butuh biaya.
Dengan
penghasilan yang ia dapat dari hasil les, sekuat tenaga Andi mengumpulkan dana
untuk keperluan operasi mulai dari meminjam ke orang tua murid dan teman-temanyâ.
Bahkan, untuk membayar
pinjaman itu, dia rela tak digaji sebagai guru les privat selama beberapa
tahun. Andi juga rajin mengikuti ajang karya ilmiah di kampus. Pokoknya, semua
yang menghasilkan uang, diikutinya. Akhirnya, dia berhasil membiayai operasi
ayahnya.
Setelah
ayahnya benar-benar sembuh, Andi mulai berpikir untuk memberi kesibukan dan
penghasilan bagi orang tuanya. Dari situ, kemudian, terlintas ide di benak Andi
untuk beternak kambing. Mulailah dia berburu pengetahuan tentang beternak kambing
dan Langkah Awalnya pun di mulai.
Dengan
modal Rp 8 juta yang merupakan hasil tabungannya, Andi mulai merintis
peternakan kambing di Plered. Dia membeli empat kambing betina dan satu kambing
jantan. Perawatan kambing-kambing ini ia serahkan ke orangtua dan sejumlah
saudaranya di kampung. Kemudian, dari seorang teman, dia mendapat info adanya
peternak besar di Jakarta Utara. Andi pun segera mendatanginya dan
mengungkapkan niatnya untuk mempelajari seluk-beluk soal beternak kambing dan berbulan-bulan,
Andi tinggal di sana.
Andi
juga selalu bercerita tentang peternakan kambing itu kepada teman-teman yang
ditemuinya dalam berbagai komunitas. Lantaran benar-benar ingin terjun ke dunia
bisnis, dia lantas bergabung dalam berbagai komunitas. Melihat hasil
peternakannya, sejumlah teman pun tertarik bergabung. Hingga pada akhir 2009,
peternakan Andi telah memiliki 258 ekor kambing, dengan suntikan modal 20
investor.
Sayang,
penjualan kambing terbesar hanya bisa dilakukan saat Idul Adha. Andi pun
kembali harus memutar otak. Ketika berkunjung ke peternakan tempatnya berguru,
Andi mendapat masukan untuk berbisnis katering. Mulailah Andi dengan usaha
katering akikah dengan nama Raja Aqiqah. Tapi karena tak bisa memasak sendiri,
masakan dikirim oleh Pak Haji, pemilik peternakan itu.
“Jujur,
saya tidak bisa masak, apalagi mengolah masakan sate atau gulai kambing. Tapi
hasil masakan saya sudah masuk ke Hotel Four Seasons dan tiga hotel bintang
empat lainnya di Jakarta,” ujar Andi
“Saya
punya niat besar untuk buka bisnis aqiqah, namun tidak bisa masak, untuk
mewujudkan keinginan saya, maka ide saya tidak lain mencari juru masak andal.
Namun pencarian tersebut tidaklah mudah, cukup banyak juru masak yang menolak
khususnya dalam memberikan resep rahasianya,” ungkap Andi lagi.
Bisnis
katering ini cepat dikenal. Maklum, Andi rajin keluar masuk gang di Depok untuk
menempel brosur setiap malam. Ia juga masuk ke komunitas yang tepat. Biar
enggak malu, Andi juga sering kali kalau memasang brosur pakai helm.
Bisnis
ini lebih menggiurkan daripada peternakan kambing. Untungnya lebih besar, bisa
sampai Rp 250.000 per ekor kambing, ujar pria kelahiran 7 Januari 1989.
Kebetulan,
di saat yang sama, tepatnya 2010 akhir, ada investor yang tertarik membeli
kambing di peternakan Andi. Investor itu ingin memulai usaha penggemukan
kambing. Tak berpikir lama, Andi menerima tawaran itu karena ingin fokus
membesarkan bisnis katering dan mengubah peternakannya menjadi pembiakan
kambing.
Pada
2011, Andi mulai membesarkan usaha katering dengan membenamkan investasi hingga
Rp 150 juta. Dia pun mencari jurumasak sendiri untuk kateringnya. Kebetulan,
ada orang yang pintar masak, tapi lagi nganggur, jelasnya.
Didukung
oleh masakan yang lezat, bisnis kateringnya pun melesat. Pesanan selalu datang
setiap hari, bahkan jangkauannya juga lebih luas, bukan cuma di Depok.
Tak
berhenti di bisnis katering akikah, Andi pun menjajal denganmembuat usaha
aqiqah yang diberi nama Raja Aqiqah. Klaim Andi tidak lain karena kualitas
bahan utama dan cita rasa masakannya yang jauh dibandingkan yang lain.
“Bahan
bakunya bukan kambing seperti pada umumnya, tapi daging domba yang merupakan
perkawinan domba Afrikan F1 dengan domba Jawa Barat. Hasilnya dagingnya empuk
dan tidak amis, apalagi yang paling utama tidak mengandung kolestrol,” ungkap
Keunggulan
tersebut membuat pelanggannya senang, dan menjadikan rekomendasi para calon
pelanggannya yang lain. “Tidak kurang dalam sehari 2-5 domba yang disembelih
atau rata-rata 100 domba tiap bulan,” ungkapnya lagi.
Perhitungan
bisnis Andi sederhana, dalam sebulan tidak kurang ada 1.000 acara aqiqah hanya
di Jakarta saja.”Kalau saya ambil pasar 2% saja, sudah besar sekali,” ucap pria
kelahiran 5 Januari 1989 ini.
“Bahkan
saat ini, peternakannya tidak mampu memenuhi permintaan pesanan. Untuk memenuhi
permintaan, saya membina sekitar 10 kelompok peternak domba yang tersebar di
Cirebon, Depok, dan di daerah Jawa barat lainnya,” kata Andi.
Andi
pun tidak menutup peluang pihak lain untuk menjalin kerjasama. Ia mengaku kini
omzet bisnisnya bisa mencapai Rp 400 juta per bulan “Simpel saja kerjasamanya,
kita bagi hasil 50:50 dari keuntungan bersih,” pungkasnya.
Andi
juga menekuni bisnis properti sejak 2012. Dia membeli rumah-rumah yang sudah
terpakai, dan merenovasinya untuk dijual kembali. Tidak hanya sampai disitu, dia
melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka usaha traveling. Bahkan, melalui
bendera PT Andinata Sumari, Andi juga menawarkan perjalanan umrah dan haji plus.
Sungguh jiwa muda yang luar biasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar